Jualan pecel keliling? Of course-lah “NO”.  Iya kali aku yang seorang perempuan yang juga manis *uhuk* disuruh berjualan pecel keliling naik sepeda di kota no-3 terbesar di indonesia ini. Aku juga anak yang tebilang sangat pemalu sejak bersekolah di Pesantren. Ya, karena disana aku tinggal di asrama yang semuanya adalah perempuan. Kami juga tidak boleh keluar asrama apalagi bertemu dengan siswa laki-laki. Kami hanya boleh bertemu laki-laki ya hanya orang-orang tertentu saja.Yang pernah jadi anak pondok pasti tau rasanya gimana.

Sejak bapak masih lajang, dia sudah bekerja di perusahaan minyak di propinsi Riau. Aku pun lahir dan dibesarkan disana. Alhamdulillah ekonomi keluarga kami terbilang lumayan saat itu. Tapi, sejak bapak resign dari kantor dan memutuskan mengurus kebunnya, ekonomi keluarga kami alhamdulillah pun masih cukup walau tidak seperti saat bapak masih bekerja di kantor. Karena tanaman di kebun bapak saat itu juga masih usia muda, Jadi hasil kebunnya belum seberapa. Seingat aku, itu sekitar tahun 2009 saat aku masih duduk di bangku Tsanawiyah atau SMP.

Aku juga sempat disuruh pulang saat akan melanjutkan ke madrasah Aliyah dan disuruh melanjutkan sekolah di kampung saja. Dengan alasan mungkin sekolah di kampung akan lebih ringan biaya. Tapi aku minta tetap bersekoah di pesantren dan aku berjanji bisa membiayai sekolah dan hidupku selama di pesantren. Sampai akhirnya aku pun tamat dari pesantren walau harus berjuang keras untuk bisa tetap sekolah disana dengan bekerja. Alhamdulillah.

Saat aku tamat sekolah, keadaan ekonomi kami pun masih sama, belum membaik. Aku sempat tinggal dirumah wawakku yang ada di Kota Duri. Salah satu kota di propinsi Riau. Aku juga bekerja di salah satu perusahaan pengiriman paket walau hanya 3 bulan. Itupun, karena orang tuaku menyuruhku pulang ke Medan dan kami akan tinggal selamanya disana.
Medan adalah kota kelahiran bapakku dan dia juga dibesarkan disana. Mungkin dia lelah tinggal di rantau dan ingin melanjutkan kehidupan di tanah kelahirannya.

Bapak sudah lebih dulu beberapa bulan tinggal di Medan sebelum aku. Bapak dan mamak berjualan madu hutan asli yang dikirim dari Riau selama mereka di Medan. Sampai aku pulang ke Medan, mereka masih berjualan madu juga. tapi, dia bilang madu sudah mulai langka dan mungkin dia akan berjualan pecel, katanya. Melanjutkan usaha nenek dulu.

Selama kami tinggal di rantau, kami memang sering memasak pecel dan dia juga sering cerita tentang pecel. Dia bercerita, katanya dulu nenek kami adalah seorang tukang pecel. Dan sambel pecelnya sudah sampai ke China.

Nenek kami orang jawa tulen; Madiun,  Jawa Timur. Nenek merantau ke Medan,  menikah dengan orang medan dan hidup di Medan. Tau dong, kan pecel yang terkenal itu darimana... dari Madiun, loh.

*%*
Cerita ini akan sedikit panjang, guys... hihihi

*****

Aku fikir, hanya mamak dan bapak yang jualan pecel dan aku Cuma bantu-bantu masak aja. Eh, ternyata mereka juga menyuruhku berjualan pecel. Jujur, aku shock! Bagaimana mungkin berjualan pecel naik sepeda dan keliling pula. Secuil pun gak pernah terlintas dan terbayang di kepalaku kalau harus melakukan pekerjaan ini.

Ya, aku tau aku memang akan berkuliah dan harus biaya sendiri. Tapi, tidak harus bekerja sebagai tukang pecel keliling, kan? Aku tamatan pesantren, dan aku fikir aku bisa menjadi tenaga pengajar, mungkin- atau apalah itu yang penting tidak harus berjualan pecel keliling.

Aku mendaftar di beberapa universitas negeri dan lulus di universitas Islam Negeri Sumatera utara di kota Medan ini. Berkuliah di Universitas Negeri, itu berarti harus siap dengan konsekuensi bahwa kampus lah yang menentukan waktu kita berkuliah. Ini tantangan buatku harus cari pekerjaan yang bisa tidak mengganggu waktu kuliahku. Tapi, apa?

Bagaimana pun orang tuaku membujukku, bilang kalau, “kau mau kerja apa yang bisa membiayai kuliahmu?” aku bilang aku mau jadi guru aja. Bapak bilang, “kau fikir gaji guru cukup untuk biaya kuliah dan biaya sehari-harimu? Gaji guru Cuma 300 ribu sebulan. Untuk uang transportmu ke kampus aja kurang”. Aku fikir pernyataan bapak itu tidak benar kalau gaji guru hanya 300 ribu. Paling dia Cuma bohong biar aku mau jualan pecel, fikirku. Untuk mencari kebenaran, aku pun tanya sama teman bapak yang dia adalah seorang guru. Dan ternyata benarlah apa yang dikatakan bapak.
Aku juga sempat ikut bisnis MLM (Multi Level Marketing) yang diajak oleh kakak seniorku saat di Pesantren. Cerita-cerita tentang kesuksesannya berbisnis MLM itu sudah terdengar sih saat aku pun masih di pesantren dan dia sudah tamat. Tapi, saat itu aku sama sekali tidak mengerti apa itu MLM. Kakak itu bukan orang Medan, tapi dia berkuliah sama di tempat aku berkuliah saat itu.

Saat itu dia sangat membuatku excited untuk menjadi sukses seperti dia. Dia sudah jalan-jalan keluar negeri,  Bahkan dia pun sudah umrah dan mengumrahkan orang tuanya dari bisnis MLM-nya itu. Tidak ada alasan untuk tidak mengikuti jejaknya. Bisnisnya pun freelance yang artinya aku bisa mengatur waktu kerjaku sendiri.

Masuk bisnis MLM itu ternyata ada uang yang harus dibayarkan untuk membeli produk bisnis itu agar kita bisa langsung melewati beberapa tangga bisnisnya. Dan itu yang memang disarankan dari upline*-nya. Disaat itu aku memang benar-benar tidak punya uang. Aku bingung harus apa agar mendapatkan uang tersebut. Tapi uplline-ku memberikan tips-tips bagaimana bisa kita mendapatkan uang tersebut. Mulai dari jalan berhutang sampai gadai barang. Kalau yang punya uang, yah tinggal jalan aja. Jalan ini hanya buat yang punya uang. Hahahah

Bekerja selama 3 bulan waktu itu tidak berarti aku punya uang. Saat itu aku masih training, dan gajinya pun hanya habis di transport dari rumah wawak ke kantor dan uang jajanku sedikit. Untungnya aku tinggal dirumah wawak  Jadi, tidak harus membayar kost.

Berhutang. Aku gak tau harus berhutang sama siapa. Sama orang tua, gak mungkin. Bisa jadi perang dunia ketiga nanti. Disamping memang mereka tidak punya uang, ya pastinya pekerjaan ini tidak akan direstui. Emas, aku tidak punya kalau harus menjual ataupun menggadaikannya. Barang yang saat ini aku punya hanya notebook pemberian dari bapakku saat kelas 3 aliyah. Ya, aku tau walaupun barang ini  bukan benar-benar milikku, tapi setidaknya aku punya kuasa atas barang ini dan membawanya lari untuk digadaikan. mungkin mereka akan bertanya jika sampai berbulan-bulan mereka tidak melihatku berada di depan barang itu seperti biasa. Entah menulis, ataupun hanya sekedar menonton film yang ada didalam notebook itu. “ah, itu urusan nantilah”, fikirku.
Dengan uang hasil gadaian notebook itu syukurnya cukup dan aku pun masuk bisnisnya dengan pangkat bintang 3, plus dapat  beberapa macam produk bisnis itu.

Sebenarnya panjang cerita tentang gimana perjuangan masuk dalam bisnis MLM ini. Lika-likunya juga banyak banget. Karena orang tuaku sangat anti banget yang beginian. Gak suka yang gak jelas (menurutnya) dan bahkan sampe ngatain aku ‘gila’ lah, de el el. Belum lagi, aku yang berani keluar sendiri dan pulang malam. Terbilang berani sih aku dibilang, karena aku baru ini tinggal di Medan. Kemana-mana naik angkot, sendirian pula. Sampai diceritain tetangga yang bilang aku gak bener karena pergi sendiri dan pulang larut. Ya, aku anaknya emang agak ada tomboynya sedikit, ahahha.

Saat orang tuaku tau aku ikut bisnis ini juga memang benar perang dunia ketiga terjadi. Dimarahin, sampe berdebat juga aku sama bapak. Kalo mamak sih lebih kalem, yah. Bapakku bilang aku gila, ngapain ikut bisnis yang gak jelas gitu. Jualan pecel aja yang jelas, gitu katanya. Dan selalu itu apapun yang aku kerjakan selain berjualan pecel, dia tidak akan pernah merestui.

Aku dipaksa harus berjualan pecel keliling sama bapak. Aku seperti tidak dibolehkan memilih dan mau apa. Kalo mamak sih enggak. Menurut bapakku, gak ada kerja yang benar selain jualan pecel itu. Semua apa yang mau aku lakuin salah di matanya. Gak ada yang betol lah pokoknya. Sampe pokoknya aku menyerah dan hanya pasrah aja. Ya mau gimana lagi ya kan, ngelakuin apapun salah. Sedangkan aku harus segera dapat pekerjaan yang bisa membiayai kuliah dan kehidupanku.

Sampai pada akhirnya..............

???

Sambungannya ditulisan berikutnya ya...


Kunci sukses ini aku dapatkan dari salah seorang  coach aku dan gak akan aku simpan sendiri ilmu ini yang berarti akan aku bagi ke temen-temen semua J. Gak banyak-banyak, hanya Ada 4 anak tangga yang harus dilewatin jika kita mau sukses. Pasti mau tau kan, yah? Yok, scroll!
Yang pertama,

THINK



Mau mulai apapun itu harus think dulu ya, kan... Secara, kita adalah manusia yang istimewanya diberikan akal untuk berfikir. Dan dibagian Think ini berisikan hal-hal yang sangat harus kita lakukan agar kita gak salah niat, salah jalan, yang mengakibatkan kita jatuh dan tak bisa bangkit lagi ( hmm, kayak ada lagunya ).
Apa aja sih yang harus di-think-in?

a.     BIG WHY

BIG artinya BESAR, dan WHY artinya KENAPA. Jadi, kamu harus punya KENAPA yang BESAR. Ya, kenapa yang besar, alasan apa yang membuatmu mau melakukan ini dan tidak akan menghentikan ini. Ex: mau membahagiakan keluarga. Silahkan gali apa sih BIG WHY mu?

b.      KEPUTUSAN

Di bagian THINK ini juga kamu harus memutuskan. Memutuskan akan mau melakukan apa, bagaimana, dan siapkah dengan segala konsekuensinya?, dengan segala manis pahitnya yang pasti ada di sepanjang perjalanan nantinya. Hidup ini begitu banyak pilihan. Maka beranilah berkeputusan.

c.      VISI, MISI, PLAN (GOAL)

Sudah punya kah VISI, MISI, PLAN buat dirimu sendiri? Dan buat usahamu juga ( bagi yang akan berbisnis) ? nah, dari sekarang susun deh itu semua agar jika nantinya kamu mulai terjatuh hampir tak bisa bangkit lagi atau pun mulai menyeleweng dari jalanmu kamu akan balik lagi di koridor yang sudah kamu atur sendiri. Apa BIG WHY-mu, apa KEPUTUSAN-mu, dan yang paling penting apa VISI MISI dirimu.

Yang kedua,

ACTION


Sudah selesai dong yah dengan segala persiapan THINK? Oke, saatnya kita: ACTION. Eits, action jangan asal action anak muda. Action-lah dengan berani, bukan dengan nekat. Karena berani dan nekat hal yang berbeda. Berani, karena kita sudah membekali diri dengan ilmu sebelum kita action. Jangan nekat action jika tanpa ilmu. Gimana, cocok?

Yang ketiga,

EFEKTIF


Action jangan asal action, kan? Action yang sudah difikirkan, dilakukan, dan setelah itu kita review apakah action yang kita lakukan sudah efektif untuk mencapai tujuan kita? Apakah action yang kita lakukan sudah benar? Sudah sesuai aturan? Atau?....
Nah, di tangga ini harusnya kamu memiliki mentor/coach. Apa perlunya mereka? SANGAT PERLU! Kenapa? Ya, karena seorang mentor/coach lah yang akan membantumu melihat jalan. Agar cepat dan tepat sampai ke tujuan. Mereka akan membantumu melakukan hal-hal yang perlu dilakukan, membantumu melihat lebih banyak lagi peluang dan membantumu berjalan lurus tanpa harus melakukan hal-hal  yang hanya akan membuang waktumu. Pemandu deh kata mudahnya J. Dengan adanya pemandu pastinya kita jalan tanpa perlu nabrak-nabrak atau nyasar. Hemat waktu, hemat energi, bukan?
Dan, jika actionmu sudah efektif, maka, SELAMAT!

Yang keempat,

SUKSES




Syukur alhamdulillah jika kamu sudah sampai di tangga ini. Namun, jika kamu belum juga sampai di tangga ini, berarti kamu harus ulang caranya dari tangga yang pertama. Fikirkan lagi, action lagi dan review lagi. Selamat berpetualang!



Assalamualaikum para cucu Nek Atik dimanapun kalian berada. Aku mau lanjutin cerita tentang Pecel Nek Atik yang kemaren aku post di Instagram @pecelnekatik (cus buruan follow).


Nah, jadi sejak tahun 1960-an itu nenek memang sudah berjualan pecel keliling naik sepeda juga, sama seperti aku pertama kali. Nenek juga sempat punya warung pecel yang pecelnya sudah dikenal banyak orang. Bahkan dari cerita bapak, bumbu pecel nenek dulu sudah sampai di luar negeri, loh. Jika ada pelanggan nenek yang bepergian ke luar negeri atau pulang kampung (rata-rata pelanggannya orang Chinese) mereka pasti pesan bumbu pecel nenek.

Nenek itu asli orang Madiun, Jawa Timur. Merantau ke Medan, menikah dan punya anak-anak yang juga dibesarkan di Medan. Nenek menikah dengan lelaki bernama Muhammad Yusuf, atok kami yang dianya adalah orang Melayu Deli. Atok lah dulu yang jadi tukang tumbuk bumbu pecelnya nenek. Dan sekarang yang tau resep bumbu pecel nenek itu hanya bapak.

Sejak  atok meninggal, bapak lah yang menjadi tukang tumbuk bumbu pecelnya. Bapak anak terakhir dari empat bersaudara, dan dia anak laki-laki satu-satunya. Dari ceritanya bapak, sejak sekolah dasar dia sudah menumbuk bumbu pecel, loh. Sampai-sampai kalua dia mau main itu susah banget. Temennya yang datang kerumah itu pada diusir sama nenek kalau dia lagi kerja gak boleh. hihihi... 

Namun, sejak bapak sudah tamat SMA nenek tidak berjualan lagi. Kakak-kakak bapak sudah pada menikah dan bapak memutuskan untuk bekerja merantau ke Riau. Dan anak-anak nenek tidak ada satupun yang melanjutkan usaha nenek.

Sampai pada akhirnya…..


Assalamualaikum semua...

Sena mau berbagi cerita nih, soal yang Sena kemaren on air di RRI 94,3 FM Medan. Sena kesana gak sendirian. Sena juga sebenarnya diajak oleh mentor Sena, Pak Adit. Dia yang diundang disana. Sena diajak untuk mendampingi Pak Adit sebagai Client-nya. Jadi tema yang diangkat kemaren yaitu tentang “Pentingnya Desain Dalam Sebuah Bisnis”.  
Nah, jadi Pak Adit adalah seorang penulis, Owner DreamArch Animation, dll heheh. Untuk lebih detailnya tentang pak Adit temen-temen bisa buka fb nya pak Adit, nama akunnya “Aditya Kryoadi”. Gak nyesel pastinya kepoin pak Adit. Apalagi sampe kenal dengan orangnya. Bakal banyak manfaat yang bisa kalian dapat dari mengenal seorang pak Adit. Trust me! :D

Sena kurang ingat pasti kapan pertama kali Sena kenal dengan pak Adit. Yang Sena ingat kalau gak salah waktu pelatihan yang diadakan oleh salah seorang temen Sena yang dia adalah seorang EO. Dan pematerinya saat itu adalah pak Adit. Seingat Sena sih gitu, heheh. Nah, semenjak itulah kami mulai sering sharing-sharing sampai sekarang pak Adit Sena angkat jadi “Mentor” Sena.
Pak Adit juga yang Sena percayakan untuk bagian desain usaha Sena seperti Logo, Coorporate Identity, dll. Nah, jadi alasan kenapa Sena bisa diajak pak Adit ke RRI ya, itu. Karena Sena clientnya, dan Sena juga clientnya yang paling kece kayaknya. Hahahah

“Pentingnya Desain Dalam Sebuah  Bisnis”. Itulah tema yang kita bahas kemarin di RRI. Sebagian teman-teman disini Sena yakin sudah tau gimana pentingnya desain dalam sebuah bisnis, kan? Ok, buat temen-temen yang belum tau kita bahas sedikit ya sebagai pandangan dasar temen-temen tentang begitu pentingnya desain dalam bisnis.

Desain itu adalah implementasi dari usaha kita. Jadi buat kita yang punya usaha, mulai tentukan desain yang pas untuk menggambarkan usaha kita. Tentukan merk dari usaha kita apa. Dan setelah itu buat logonya. Dari situ akan timbul desain-desain lain, seperti desain flyernya, banner, kartu nama, dll.

Semua desain yang kita tentukan akan berdampak pada usaha kita. Kita sendirilah yang tentukan mau seperti apa brand kita dimata costumer. Jadi, mulai sekarang tentukan ya buat kamu para pengusaha pemula atau pun yang sudah lama. Jangan buat costumermu berimajinasi akan brandmu. Tentukan akan bagaimana orang melihat brandmu.

Nah, itu sebagai kata sambutan tentang pentingnya sebuah brand ya teman-teman. Selanjutnya teman-teman bisa cari tau dimanapun itu. Kita lanjut ke cerita di RRI ya..
Jadi sebelum berangkat ke RRI Sena sudah dipesankan oleh pak Adit untuk bawa Pecel ke sana. Sampai disana, sebelum siaran kami makan Pecel dulu dan gak lupa pastinya dokumentasi yaitu selfie. Hihihi

Obrolan pun mengalir dari pertanyaan ringan soal nama, sampai ke agak berat mengenai status. Hahahh, agak berat memang kalau pertanyaannya soal status ini. Gak lama ngobrol-ngobrol, kami pun mulai siaran.

Selama siaran obrolan kami mengalir begitu lancar. Banyakan becandanya daripada seriusnya. Ternyata enggak sekaku yang sena fikirin. Maklum, perdana masuk radio, heheh.
Gitu aja sih ceritanya selama siaran di RRI Medan. Ambil manfaatnya dan maafkan kesalahannya. Hahah..

Oh ya ada quote bagus nih dari Steve Job,
“Design is not just what it looks like and feels like. Design is how it works.”-
Sampai ketemu di tulisan selanjutnya ya...

. BIG WHY

Teman-teman punya alasan kenapa pilih menjadi PENGUSAHA? Dengan tegas saya akan bilang,
“HARUS PUNYA BIG WHY!”
Kenapa harus? Ya karena apa jadinya kita punya tujuan tanpa alasan? Tuhan juga punya alasan kenapa kita diciptakan, bukan?
Semua yang terjadi di dunia tidak diciptakan tanpa alasan. Jadi, apa mungkin kita memilih sesuatu tanpa alasan?
Tanpa ALASAN YANG KUAT/BIG WHY kita tidak akan tau GOAL kita akan kemana dan jadi seperti apa nantinya. Kalau tidak punya KENAPA, maka tidak akan ada APA-APA.



2.    GOAL


Seperti kata-kata saya diatas “kalau kita tidak punya KENAPA, maka tidak akan ada APA-APA”. Sudah di list belum alasannya memilih? Sudah punya KENAPA nya dong kan..
Berarti sekarang kita masuk ke GOAL nya.
Apa sih GOAL/PENCAPAIAN yang ingin dan harus kamu wujudkan dari pilihanmu menjadi seorang pengusaha? Pengen seperti apa usaha kamu kedepannya? Pengen seperti apa keuanganmu kedepan? Dan bla bla bla goal lainnya.
Untuk membuat goal juga harus SMART pastinya. Jangan ngasal, setiap tindakan harus pake ilmu.

S=Specific

Ya. GOAL harus spesifik. Hindari membuat goal yang ambigu, ngambang. Goal harus spesifik. Benar-benar spesifik. Tujuannya adalah agar bisa terfokus dan didefenisikan dengan baik. Karena goal yang lebih spesifik memiliki kesempatan yang lebih besar untuk dicapai daripada goal yang masih bersifat umum.
·         Saat anda menetapkan tujuan, pastikan anda bisa menjawab pertanyaan 6W ini:
1.      Who – Siapa yang terlibat?
2.      What –  Target apa yang ingin anda capai?
3.      Where – Dimana target akan dicapai? (identifikasi lokasi)
4.      When – Kapan target ini akan dicapai? Tentukan tenggat waktu
5.      Which – Persyaratan dan hambatan yang akan anda temui dalam proses? Identifikasi hal tersebut.
6.      Why – mengapa anda menetapkan tujuan ini? Tuliskan alasan dan manfaat jika anda berhasil mencapai target anda.

M=Measurabel (terukur)

Setelah membuat goal yang spesifik, seelanjutnya adalah melihat progress nya seperti apa.
Untuk itu, ukurlah progress dengan:
·         Menanyakan pertanyaan How – Berapa banyak dan bagaimana anda mengetahui bahwa target tersebut telah tercapai .
·         Membuat daily reminder untuk menilai dan memastikan progress anda – buatlah jurnal harian untuk menuliskan hal-hal penting yang terjadi dalam proses anda mencapai target. Sehingga, anda dapat megetahui sudah seberapa dekat anda kepada target anda.


A=Achiveable (dapat dicapai)

Poin ketiga ini menekankan bahwa target harus realistis dan dapat dicapai (attainable), artinya target tidak boleh dibuat terlalu mudah (untuk performa standar tim anda), tapi juga tidak boleh terlalu sulit sehingga terasa mustahil untuk dicapai. Untuk membuat target anda tercapai anda perlu:
·         Menilai apakah tujuan yang sudah anda tetapkan dapat dicapai atau tidak, dengan mengukurnya dari beban kerja tim, pengetahuan dan kemampuan tim atau dari sumebr daya lain yang mendukung . Jika tidak, maka anda bisa menetapkan tujuan lain yang bisa anda capai di masa sekarang.
·         Target yang attainable juga akan menjawab pertanyaan, seperti : Apakah anda sudah memiliki komitmen kuat untuk mencapai tujuan anda? Apakah ada target lain yang lebih besar yang ingin anda capai?

R=Relevan

Target yang relevan, jika tercapai, akan mendorong tim, departemen, dan organisasi lebih maju. Sebuah target yang mendukung atau selaras dengan target-target lainnya akan dianggap sebagai target yang relevan.
Sebuah target yang relevan akan memberikan jawaban ‘ya’ untuk semua pertanyaan ini:
·         Apakah target ini layak diperjuangkan?
·         Apakah target ini ada di waktu yang tepat?
·         Apakah target ini sesuai dengan kebutuhan dan target anda yang lain?
·         Apakah anda orang yang tepat untuk mengejar target ini?

T=Time Based

Ini adalah bagian dari filosofi SMART yang melindungi target dari serangan krisis sehari-hari yang biasa terjadi dalam organisasi. Target dengan tenggat waktu akan menimbulkan urgensi.
Target dengan tenggat waktu akan menjawab pertanyaan berikut:
·         Kapan?
·         Apa yang bisa saya lakukan (selesaikan) dalam 6 bulan dari sekarang?
·         Apa yang bisa saya lakukan (selesaikan) dalam 6 minggu dari sekarang?
·         Apa yang bisa saya lakukan (selesaikan) hari ini?***


3.    SELESAIKAN MASALAH DIRI SENDIRI

Tak hanya di daerah pelosok, di perkotaan masyarakat minim untuk persentase budaya bacanya.  Beragam faktor turut mempengaruhi budaya membaca masyarakat. Mulai dari minat membaca, faktor sosio-kultural masyarakat hingga daya beli terhadap bahan bacaan. Dalam hal ini, daerah pedesaan dengan beragam keterbatasannya membutuhkan perhatian yang ekstra.
Daerah pedalaman atau pedesaan kerap berada jauh dari sumber bacaan (perpustakaan atau toko buku). Jika ada, itupun dalam jumlah kecil dengan variasi bacaan yang terbatas. Selain itu, daya beli masyarakat juga rendah karena harga yang terbilang mahal.
Kondisi semakin kompleks karena bagi penduduk di pedesaan umumnya orang tua merasa tamat Sekolah Dasar saja sudah dianggap cukup memenuhi pendidikan anaknya. Mereka yang melanjutkan pendidikannya hingga perguruan tinggi hanyalah segelintir orang saja.
Terlepas dari rendahnya pendidikan anak-anak di desa, anak-anak dibiarkan berkembang apa adanya tanpa lagi memperhitungkan pendidikan informal yang harusnya mereka dapat. Oleh beberapa alasan tersebut, Ulil Albab melalui jaringan layanan Sahabat Pendidikan-nya meluncurkan program rumah baca anak untuk daerah pelosok dan pedesaan.
Program ini bertujuan untuk menumbuhkan minat baca anak agar mereka bisa menambah wawasannya melalui membaca. Rumah Baca hadir sebagai pendukung untuk memenuhi fasilitas membaca tersebut.
Rumah baca anak lahir dari pengembangan program Gerakan Waqaf Buku yang berjalan sejak 2014. Gerakan ini mengajak masyakat perorangan, organisasi, lembaga ataupun institusi untuk berdonasi buku baru ataupun lama tapi layak baca. Perpustakaan Universitas Sumatera Utara, beberapa toko buku, dosen-dosen dari beberapa kampus di Medan, organisasi mahasiswa dan lain-lain juga telah ikut berpartisipasi mendonasikan buku pada program ini.
Setelah berhasil menyalurkan buku dari gerakan tersebut ke beberapa tempat seperti MIS di Tanjung Morawa, sekolah dasar di Besitang, dan kepada da’i di berbagai daerah di pelosok Sumatera Utara. Pada Desember 2015, gerakan ini berkembang menjadi program rumah baca anak yang dipantau langsung oleh Salman selaku manajer Sahabat Pendidikan. Akhir Desember 2015 lalu, rumah baca anak telah berdiri di Desa Limang, kecamatan Tiga Binanga, Kabupaten Karo.
Inggit Suri Chairani selaku project manager rumah baca anak menjelaskan tak hanya menyediakan buku sebagai bahan bacaan, mereka juga mendesain bagian dalam rumah baca untuk menarik minat baca anak, “Dalam pelaksanaannya, rumah baca anak tidak hanya menyediakan buku sebagai bahan bacaan tetapi bagian dalam rumah didesain semenarik mungkin untuk menarik minat pembaca yang umumnya adalah anak-anak,” jelasnya kepada Go Sumut beberapa waktu lalu.
Lebih lanjut ia juga menjelaskan bahwa bangunan fisik rumah baca adalah rumah penduduk yang sudah difungsikan sebagai tempat bermain anak-anak, belajar, dan mengaji. Tempat ini dikelola oleh tokoh masyarakat di daerah tersebut.
Sahabat Pendidikan Ulil Albab sebagai penanggung jawab rumah baca bekerjasama dengan tokoh masyarakat tetap berupaya melakukan pendekatan kepada para orang tua untuk mendorong anak-anaknya agar rutin mengunjungi rumah baca sebagai upaya untuk melestarikan budaya membaca bagi anak-anak di sekitar desa ini.
Teks foto: Penanggung jawab berfoto bersama masyarakat sebagai pengelola rumah baca anak di desa Limang, kecamatan Tiga Binanga, Kabupaten Karo. Program rumah baca terlaksana sebagai upaya pelestarian budaya membaca bagi anak-anak di sekitar desa ini.