(difoto ini saya terlihat bahagia sekali menjadi seorang tukang pecel keliling)



“sudahlah. Jangan larang-larang aku lagi mau berbuat dan ngerjain apa. Kalaupun salah aku akan belajar!”

Kalimat ini yang aku lontarkan saat itu. Capek aku tuh  Kalau semua-semua dilarang. Mau ini itu gak boleh. Mau ngerjain apapun itu gak boleh. Apa memang hanya berjualan pecel itu saja yang benar? Aku capek harus berdebat dan berkelahi terus sama bapak cuma karena persoalan jualan pecel. Ada begitu banyak hal yang bisa kita kerjakan di dunia ini. bukan hanya harus berjualan pecel keliling, kan?

Rasanya saat itu aku sangat tidak bisa menerima kenyataan kalau harus menjalani kehidupan yang seperti ini. baru kali ini rasanya aku dilarang-larang sama bapak mau ngapain. Sejak kecil bapak gak pernah memaksakan aku harus apa dan bagaimana. Dulu, dia selalu support apapun yang aku mau dan lakukan. Gak kayak gini. Dulu, apapun pilihanku, dia selalu meng-iya-kan. Kalaupun dia kurang setuju dia tak lantas melarangku atau berkata “tidak boleh”. Dia pasti memberi saran terlebih dahulu dan mengajak kita berdiskusi. “bapak saran aja, ya... apa tidak sebaiknya begini...” nah, begitu dulu.

Aku sangat tertekan saat itu. Aku jadi menyalahkan keadaan dan mengutukinya, “kenapa harus ada di posisi ini?, kenapa harus bapak memutuskan  resign dari kantor kalau belum siap secara ekonomi buat anak-anaknya terutama anak perempuannya, mengapa gak begini, mengapa harus ini”. aku marah sama bapakku kenapa harus memutuskan berhenti bekerja disaat dia sendiri pun belum siap untuk menjalani kehidupan selanjutnya. Kan yang terkena imbasnya kami, anak-anaknya.

Aku sangat marah, dimana aku, anak perempuan yang harusnya tidak mesti melakukan pekerjaan ini (penjual pecel keliling). Yang mana juga aku punya background anak pondokan (sekolah di pesantren) sangat tidak harus aja untuk menjadi seorang tukang jualan pecel keliling. Harusnya aku bisa aja jadi tenaga pengajar ilmu agama atau yang berkaitan dengan keagamaan lah. Isn’t it?

Sungguh, itu adalah momen terberat yang aku rasakan saat itu. Tapi, gatau ya mau gimana lagi. Secara, aku belum tau banyak tentang Medan dan dunia luar (karena ya selama kurang lebih 7 tahun dikurung di pondok). Mungkin kalian bisa ngebayangin, gimana kacaunya diriku saat itu. Saat HARAPAN dan KENYATAAN, SEMUA SALING MEMBELAKANGI.


Kalian punya moment yang dirasa MOMEN TERBERAT? Yuk, share di komen. Curhat-curhatan kita... 

*hugNkiss